Pekerjaan Rumah (PR) dapat menjadikan interaksi yang cukup intensif antara orang tua dengan anak ataupun guru dengan murid. PR yang diberikan untuk murid bermanfaat untuk anak belajar mempunyai rasa tanggung jawab terhadap suatu pekerjaan dan mengatur waktu belajarnya sendiri.
Malas dijabarkan sebagai tidak mau berbuat sesuatu, segan, tak suka, tak bernafsu (Muhammad Ali, Kamus Bahasa Indonesia). Malas mengerjakan PR berarti tdak mau, segan, tak suka, tak bernafsu mengerjakan PR.
Anak malas mengejakan PR sudah menjadi salah satu keluhan para guru di sekolah. Namun seringkali guru dalam menangani anak yang malas mengerjakan pekerjaan rumah hanya melihat dari satu sudut pandang saja, yakni hanya dari sudut pandang si guru. Sehingga tidak heran akan keluar kata-kata celaan untuk anak, misalnya saja “dasar anak malas” atau yang sejenisnya sampai diberikannya hukuman fisik misalnya guru memukul tangan murid dengan penggaris kayu atau berdiri di depan kelas dengan atau tanpa kaki diangkat sebelah. Tanpa ditanya terlebih dahulu kenapa si anak tidak mengerjakan PR dan tanpa memahami faktor-faktor penyebabnya. Perlakuan seperti itu sama dengan kembali kepada sistem pendidikan di
Pakar pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof Dr Conny Semiawan mendefinisikan anak malas ialah anak yang enggan melakukan hal yang sesuai minatnya terlebih yang bukan minatnya. Keengganan tersebut disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Pada dasarnya anak memiliki sikap disiplin dan kerajinan, namun tidak tergali dan dibuat menarik. Anak akan lebih mendekati suatu hal yang menarik perhatiannya.”Malas bukanlah suatu sifat karakter tapi merupakan bentukan dari lingkungannya yaitu dari contoh yang diamatinya,” kata Conny.
Anak malas tidak identik dengan anak yang tidak mempunyai inisiatif. Misalnya, anak baru saja sembuh dari sakit, atau kondisi badannya sedang tidak fit cenderung tidak mau melakukan aktivitas. Faktor psikis anak juga berperan sangat penting bagi anak untuk melakukan aktivitas, seperti misalnya berkaitan dengan kemampuan kognitif (kecerdasan, bakat), afeksi (perasaan, sikap, motivasi), dan psikomotorik (ketelitian, kecepatan, atau keterampilan).
Anak malas mengerjakan PR secara psikologis merupakan wujud melemahnya kondisi mental, intelektual, fisik, dan psikis anak yang disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Faktor intrinsik (dari dalam diri anak)
a. Kurangnya motivasi diri, hal ini kemungkinan disebabkan anak belum mengetahui manfaat dari belajar atau belum ada sesuatu yang ingin dicapainya atau disebabkan karena kita (guru) kurang dan atau tidak tepat dalam menggunakan teknik memotivasi siswa (hanya marah-marah).
b. Kelelahan dalam beraktivitas (misal terlalu banyak bermain atau membantu orang tua).
c. Sedang sakit atau sedih.
d. IQ atau EQ anak.
2. Faktor ekstrinsik (dari luar diri anak)
a. Guru sebagai tokoh teladan yang disegani di sekolah, terkadang tidak jelas dalam memberikan tugas kepada anak didik sehingga anak didik tidak mengerti terhadap apa yang akan dikerjakan di rumah.
b. Sikap orang tua yang tidak memperhatikan dan membimbing anak dalam mengerjakan PR, meskipun terkadang ada anak yang tidak mau didampingi orang tuanya dengan alasan sudah besar akan tetapi orang tua harus tetap membimbingnya untuk mengetahui anaknya benar-benar mengerjakan pekerjaannya. Dan tidak adanya apresiasi terhadap pekerjaan anak.
c. Suasana di rumah yang selalu penuh kegaduhan, berantakan ataupun kondisinya tidak nyaman dan sedang ada masalah di rumah. (baik ayah dengan ibu yang bertengkar atau anak dimarahi orang tuanya).
d. Tersedianya fasilitas permainan yang berlebihan di dalam atau di luar rumah seperti playstasion, game online dan lain sebagainya.
Perlu kita pahami bersama, seperti yang telah dikatakan oleh John Dewey, “pendidikan adalah proses perubahan tingkah laku yang berlangsung secara terus-menerus (long life education)”. Bahwa tingkah laku anak seperti apapun merupakan suatu proses dari perkembangannya mencapai kedewasaan dan hal ini menjadi salah satu peran penting pendidikan sebagai usaha orang dewasa (pendidik) dalam membantu, menolong, membimbing, dan mengarahkan anak yang belum dewasa (anak didik) untuk mencapai kedewasaan (tujuan pendidikan) masing-masing. (Prof. M. J. Langeveld)
Satu hal yang terpenting adalah “Jangan sekali-kali mencela anak”. Karena hal tersebut dapat mempengaruhi psikis (kejiwaan) anak sehingga anak menjadi “minder” dan merasa bahwa dirinya banyak kelemahan. Tentunya anak akan malas berusaha memperbaiki tingkah lakunya yang malas mengerjakan PR. Dan kita sebagai guru harus lebih bijaksana dalam menangani permasalahan ini sehingga pendidikan bagi anak didik kita adalah pendidikan yang memanusiakan manusia.